nez's blog

Askep hepatitis

heparI. KONSEP TEORI HEPATITIS B

A. PENGERTIAN

Peradangan parenkim hati yang disebabkan oleh virus yang disebut HBV. Dulu penyakit ini disebut dengan hepatitis serum.

B. ETIOLOGI

Virus hepatitis B (HBF) merupakan virus DNA yang tersusun  dari partikel antigen berikut ini:

1.      HBcAg

2.      HBsAg

3.      HBeAg

4.      HbxAg

Setiap antigen menimbulkan antibodi spesifiknya:

1.      Anti HBc

2.      Anti HBs

3.      Anti HBe

4.      Anti HBxAg

HBsAg muncul dalam sirkulasi darah pada 80 % hingga 90% pasien yang terinfeksi 1 hingga 10 minggu setelah kontak dengan HBV dan 2 hingga 8 minggu sebelum munculnya gejala atau meningkatnya kadar transferase (transaminase). Orang-orang dengan HBsAg yang bertahan selama 6 bulan atau lebih sesudah mengalami infeksi akut dinyatakan sebagai karier HBsAg.

HBeAg merupakan antigen HBV yang muncul berikutnya dalam serum. Biasanya antigen ini timbul dalam waktu satu minggu setelah munculnya HbsAg dan sebelum terjadinya perubahan kadar amino transferase unutk kemudian menghilang dari serum dalam waktu 2 minggu. DNA HBV yang terdeteksi dalam pemeriksaan reaksi rantai polimerase (PCR; Polimerase Chain Reaction), muncul dalam serum pada saat yang kurang lebih sama dengan HbeAg. HBcAg tidak selalu terdeteksi dalam serum dalam infeksi HBV.

C. CARA PENULARAN

1.      Suntikan

2.      Tranfusi

3.      Cuci darah

4.      Operasi

5.      Penyunatan

6.      Luka yang terciprat darah

7.      Liur

8.      Tato

9.      Penindikan kuping

10.  Hubungan sexual (homosex dan heterosex)

11.  Keringat

12.  Ciuman

13.  Susu ibu

14.  Air seni

15.  Tinja

D. TANDA DAN  GEJALA

Secara klinis penyakit ini menyerupai hepatitis A namun masa inkubasinya jauh lebih lama (1- 6 bulan). Angka mortalitasnya cukup besar berkisar dari 1 % -10 %. Gejala dan tanda-tanda hepatitis B dapat samar dan bervariasi. Gejala paling awal dari hepatitis B mirip dengan “masuk angin” atau flu. Panas dan gejala pada pernafasan jarang dijumpai; sebagian pasien mungkin mengeluh artalgia dan ruam. Pada pasien hepatitis B dapat mengalami penurunan selera makan, dispepsia, nyeri abdomen, pegal-pegal yang menimbulkan tidak enak badan dan demam. Biasanya suhu tubuh asedikit meninggi tapi jarang sampai 39,5 0C lebih. Gejala ikterus dapat terlihat atau kadang-kadang tidak tampak. Apabila terjadi ikterus gejala ini akan disertai dengan tinja yan berwarna cerah dan urin yang berwarna gelap. Hati penderita hepatitis B mungkin terasa nyeri saat ditekan dan menbesar hingga panjangnya mencapai 12-14 cm. Limpa membesar dan pada sebagian kecil pasien dapat diraba. Kelenjar limfe servikal posterior juga dapat membesar.

E. KELOMPOK RESIKO TINGI TERKENA HEPATITIS B

1.      Walaupun infeksi HBV tidak umum didapatkan pada populasi orang dewasa, kelompok tertentu dan orang dengan cara hidup tertentu  memiliki resiko tinggi, kelompok ini termasuk:

2.      Imigran dari daerah dimana HBV merupakan suatu keadaan endemik

3.      Orang-orang yang memakai obat melalui IV yang sering bertukar jarum dan alat suntuk

4.      Melakukan hubugnan seksual dengan banyak orang atau dengan orang terinfeksi,

5.      Pria homoseksual yang aktif secara seksual

6.      Pasien di institusi mental

7.      Narapidana pria

8.      Pasien hemodialisisdan penderita hemofilia yang menerima bahan-bahan dari plasma.

9.      Kontak serumah dengan pembawa HBV

10.  Pekerja sosial dalam bidang kesehatan, terutamajika pekerjaannya banyak berkontak dengan darah

11.  Bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi dapat terinfeksi selama atau segera setelah lahir.

F. EVALUASI DIAGNOSTIK FUNGSI HATI

1. Pemeriksaan hati

Palpasi hati mungkin dapat dilakukan pada kuadran kanan atas. Hati yan teraba akan memperlihatkan tepi yang tajam, padat dengan permukaan yang rata. Besar hati diperkirakan dengan melakukan perkusi batas atas dan batas bawah hati.

Jika hati dapat diraba, pemeriksa harus memperhatikan dan mencatat ukuran serta konsistensinya apakah organ tersebut nyeri tekan dan apakah organ tersebut nyeri tekan dan apakah garis bentuknya  reguler atau irreguler. Apabila hati membesar, derajat pembesarannya hingga berada di margo kosta kanan harus dicatat untuk menunjukan ukuran hati.

Nyeri tekan pada hati menunjukan pembesaran akut yang baru saja terjadi disertai peregangan kapsula hepar. Tidak adanya nyeri tekan dapat berarti bahwa pembesaran tersebut tidak berlangsung lama. Hati pasien hepatitis virus terasa nyeri bila ditekan. Sedangkan hati pasien hepatitis alkoholik tidak menunjukan gejala nyeri tekan tersebut. Pembesaran hati merupakan gejala abnormal yang memerlukan evalusi lebih lanjut.

2. Tes Fungsi Hati

Fungsi hati umumnya diukur dengan memeriksa aktivitas enzim serum (yaitu, alkali fosfatase, laktik dehidrogenase, serum aminotranferase (transaminase)), dan konsentrasi serum protein, bilirubin, amonia, faktor pembekuan serta lipid.

Serum aminotransferase (yang juga disebut transaminase) merupakan indikator yan sensitif untuk menunjukan cedera sel hati dan sangat membantu dalam pendeteksian penyakit hati akut seperti hepatitis.

SGOT-SGPT merupakan test paling sering dilakukan untuk menunjukan kerusakan hati. Kadar SGPT meningkat terutama pada penyakit hati dan dapat digunakan untuk menunjukan kerusakan hati. Kadar SGPT meningkat terutama pada penyakit hati dan dapat digunakan untuk memantau perjalanan penyakit hepatitis, sirosis atau hasil pengobatan yang mungkin toksik bagi hati.

3. Pemeriksaan Diagnostik Lainnya

Ultrasonografi, CT dan MRI digunakan unutk mengidentuifikasi struktur normal dan abnormalitas dari hati serta percabangan bilier.

Laproskopi digunakan unutk memeriksa hati dan struktur pelvis alainnya.  Pemeriksaan ini  juga dilakukan untuk melaksanakan biop[si hati yang dipandu, unutk menetukan etiologi ascites dan unutk menegakkan diagnosis serta stadium tumor hati dan tumor abdomen lainnya.

Biopsi hati. Biopsi hati, yaitu pengambilan sedikit jaringan hati yang biasanya dilakukan lewat aspirasi jarum, memungkinkan pemeriksaan terhadap sel-sel hati. Indikasi yang paling sering untuk melakukan pemeriksaan ini adalah memastikan adanya malignasi pada hati.

G. PENATALAKSANAAN

1.      Tirah baring (bed rest)

Biasanya direkomendasikan tanpa memperhitungkan bentuk terapi yang lain sampai gejala hepatitis sudah mereda. Selanjutnya,aktifitas pasien harus dibatasi sampai gejaola pembesaran hati dan kenaikan kadar bilirubin serta enzim-enzim hati dalam serum kembali normal.

2.      Nutrisi yang adekuat

Nutrisi yang adekuat harus dipertahanakan; asupan nutrisi dibatasi bila kemampuan hati untuk memetabolisasi produk sampingan protein terganggu

3.      Upaya kuratif

Untuk mengendalikan gejala dispepsia dan malaise umum mencakup penggunaan antasid, beladonna, serta preparat antiemetik. Apabila muntah tetap terjadi klien mendapat terafi cairan.

4.      Masa Pemulihan

Pemulihan gejala yang lengkap kadang-kadang membutuhkan waktu 3 atau 4 bulan atau lebih lama lagi. Selama stadium ini pengembalian aktivitas fisik yang berangsur-angsur diperbolehkan dan harus dianjurkan sesudah gejal ikterus menghilang.

5.      Pertimbangan psikososial

Pertimbangan psikososial harus dikenali oleh perawat, khususnya akibat pengisolasian dan pemisahan pasien dari keluarga serta sahabat mereka selama stadium akut dan infektif. Prencanaan khusus diperlukan unutk meminimalkan perubahan dalam persepsi sensorik. Keluarga perlu diikutsertakan dalam perencanaan untuk mengurangi rasa takut dan cemas dalam diri pasien tentang penularan penyakit tersebut.

H. PROGNOSIS

Mortalitas hepatitis B pernah dilaporkan sampai setinggi 10 %. Sepuluh persen penderita lainnya akan berkembang menjadi status karier atau mengalami hepatitis kronis.

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN HEPATITIS B

1. PENGKAJIAN

a. Keluhan utama

  • Anoreksia dan mual
  • Lemas dan cepat lelah
  • Nyeri pada abdomen kwadran kanan atas
  • Sakit kepala dan pusing
  • Kulit dan mata kuning

b. Riwayat Kesehatan Sekarang

  • Kembangkan keluhan utama dengan PQRST

c. Riwayat Kesehatan Dahulu

  • Tanyakan tentang sumber infeksi, apakah ada riwayat kontak dengan penderita hepatitis.
  • Tanyakan apakah ada riwayat penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang/zat kimia hepatotoksik
  • Tanyakan pernahkah mendapat tranfusi darah/cuci darah
  • Tanyakan riwayat kebiasaan makan:

Ø      Diet tinggi lemak,

Ø      Teratur dan tidaknya

Ø      Hygiene dari makanan

d. Riwayat Kesehatan Keluarga

Tanyakan apakah ada anggota  keluarga yang sakit hepatitis

e. Pemeriksaan Fisik

1.      Sistem Pernafasan.

Biasanya dalam batas normal

2.      Sistem Kardiovaskuler

Sklera ikterik, konjungtiva tidak anemis.

3.      Sistem Pencernaan

Palpasi nyeri tekan pada kuadran kanan atas, teraba pembesaran hepar dan limpa.

4.      Sistem Integumen

Kulit tampak kuning, kering

5.      Sistem Perkemihan

Urin kuning pekat seperti teh

f. Pengkajian Psikososial

1)      Tanyakan mengenai perasaan, kondisi dan pengertian klien tentang prosedur diagnostik dan program pengobatan dan perawatan.

2)      Kaji koping mekenisme klien menghadapi panyakit

3)      Kaji konsep diri klien dalam manghadapi penyakit

4)      Bagaimana interaksi  sosial klien dengan orang lain

g. Hasil Pemeriksaan Laboratorium

1)      Peningkatan SGOT, SGPT

2)      Peningkatan kadar bilirubin indirect dan bilirubin total

3)      Alkalin fosfatase dan laktat dehidragenase

4)      Bilirubin uria

5)      Urobilirubin meningkat

6)      Kadar protein total, albumin, globulin dan fibrinogen menurun

h. Hasil Pemeriksan Rontgen Foto

Pada hepatitis  B berat, akan tampak: hepatomegali dan splenomegali.

i. Pemeriksaan Diagnostik Lain yang Diperlukan:

§         Biopsi hepar

§         USG Hepar

2. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul

a.       Aktivitas intoloerance berhubungan dengan kelemahan dan pembatasan aktivitas

b.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi; intake kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan mual

c.       Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan kehilangan cairan melalui muntah-muntah dan demam.

d.      Resiko terjadinya pedarahan yang lama berhubungan dengan profil darah /koagulasi abnormal

e.       Resiko terjadinya gangguan integritas kulit berhubungan dengan ikterik dan pruritus

f.       Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan inadekuatnya pertahanan tubuh

g.      Resiko terjadinya penularan/ penyebaran infeksi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, penularan dan penatalaksanaan perawatan di rumah.

3. Perencanaan Keperawatan

DIAGNOSA

I N T E R V E N S I

Aktivitas intolerance

§      Mempertahankan klien untuk bedrest, dengan posisi yang nyaman menurut klien, misal: semifowler

§      Bantu dan anjurkan melakukan perubahan posisi setiap 2 jam sekali, miring kiri-miring-kanan.

§      Bantu klien seluruh kebutuhan AKS klien (personal hygiene, makan/minum, bab dan bak).

§      Bimbing dan ajarkan melakukan latihan gerak pasif atau aktif diatas tempat tidur

§      Libatkan keluarga dalam memenuhi AKS

Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi §      Jelaskan manfaat nutrisi terhadap proses penyembuhan penyakit pada klien

§      Lakukan oral hygiene sebelum makan

§      Anjurkan minum air teh manis hangat sebelum makan

§      Sajikan makanan dalam keadaan hangat dan menarik

§      Berikan nutrisi dengan porsi kecil tapi sering

§      Berikan nutrisi sesuai dengan program diet: tinggi kalori, tinggi protein dan rendah lemak

§      Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi multi vitamin dan anti mual/antiemetik

Resiko kekurangan volume cairan §      Pertahankan pemberian cairan parenteral, untuk maintenance + 20 gtt/mnt

§      Tingkatkan intake cairan peroral bila tidak ada kontra indiksi

§      Monitor tanda-tanda dehidrasi; turgor, TD, nadi.

§      Catat intake dan out put setiap minimal 8 jam sekali

§      Monitor tanda-tanda vital, dan periksa ulang kadar elektrolit

Resiko terjadinya perdarahan lama §      Catat tanda-tanda perdarahan pada membran mukosa gusi dan pada feses

§      Pantau pemeriksaan koagulsi (PT dan BT)

§      Gunakan jarum berdiameter kecil

§      Kolaborasi pemberian vitamin K

§      Cegah terjadinya perdarahan atau kerusakan pada kulit

Resiko gangguan integritas kulit §      Lakukan perawatan kulit dengan sering hindari sabun yang banyak mengandung busa/ terlalu keras

§      Mandikan klien menggunakan air hangat

§      Berikan lotion/krim pada kulit klien

§      Kolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan lab; bilirubin

Resiko terjadinya infeksi §      Tempatkan klien pada kamar yang tidak bersatu dengan klien yang berpenyakit infeksi

§      Batasi pengunjung atau kontak dengan orang lain yang  berpenyakit infeksi, misal; ISPA anjurkan klien untuk makan makanan yang mengandung kadar protein yang tinggi

§      Monitor tanda-tanda infeksi dari penyakit lain

§      Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat kortikosteroid/anti inflamasi bila perlu

Resiko terjadinya penularan/penyebaran penyakit §      Jelaskan pada klien dan keluarga tentang penyakit, cara penularan dan kemungkinan komplikasi

§      Berikan pengertian pada keluarga untuk membatasi kontak dengan klien dalam waktu lama

§      Anjurkan kepada pengunjung klien untuk menggunakan pengaman dan tidak terlalu dekat dengan klien

§      Berikan penjelasan pada klein untuk membatasi aktivitasnya pada masa pemulihan

§      Tekankan pentingnya untuk selalu mengikuti perawatan tidak lanjut selama satu tahun

§      Anjurkan untuk kontrol teratur dan segera meminta pertolongan bila timbul gejala-gejala kambuh



0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below..

You must log in to post a comment.