nez's blog

PROPOSAL PENELITIAN KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP PUSKESMAS DTP TANJUNGSARI KABUPATEN SUMEDANG

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan, pelayanan rumah sakit, lebaga-lembaga pemulihan kesehatan pusat-pusat kesehatan masyarakat serta lembaga-lembaga kesehatan lainnya perlu diperhatikan mutu pelayanan, selain itu pemerataan dan penyediaan tenaga medis dari tenaga medis lainnya. Penyediaan obat yang merata dan terjangkau oleh masyarakat, serta pengadaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana kesehatan lainnya perlu mendapat perhatian pula ( Depkles RI 1991 : A – 1 ).
Salah satu pelayanan kesehatan yang bila dijangkau oleh masyarakat baik dalam hal biaya maupun lokasi yang dekat dengan masyarakat adalah Puskesmas Dengan Tempat Perawatan ( DTP ) adalah puskesmas yang diberi tambahan ruangan dan fasilitas untuk menolong pasien –pasien gawat darurat baik tindakan operatif terbatas mnaupun asuhan keperawatan sementara yang mempunyai kapasitas kurang lebih 10 tempat tidur ( Depkes RI 1991 : 1). Adapun puskesmas DTP adalah sutau sarana pelayanan kesehatan yang tidak berorientasi keuntungan tetapi lebih berorientasi pada unsur sosial.

Adapun kebijaksanaan dan strategi menurut Depkes RI ( 1991 ) tentang pedoman pelaksanaan rawat inap di puskesmas DTP adalah sebagai berikut :

A.     Kebijaksanaan
Peran dan fungsi tenaga jkeperawatan adalah sebagai pengelola dan pelaksana keparawatan yang mengacu pada standar praktek keperawatan dan melaksanakan tindakan terbatas yang merupakan pelimpahan wewenang dari dokter.
Dimana asuhan keperawatan disesuaikan dengan standar praktek keperawatan, yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pasien maupun keluarganya dalam memngatasi masalah kesehatan secara mandiri dalam bidang keperawatan dasar.

B.    Strategi
Meningkatkan kemampuan Puskesmas Dengan tempat Perawatan agar dapat menangani kasus – kasus yang potensial meningkatkan kematian dan gawat darurat dengan pemnbatasan hari rawat 3-7 hari. Penerapan standar praktek keperawatan bagi setiap tenaga keperawatan yang bertugas di ruang rawat inap puskesmas sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, melibatkan pasian secara optimal meningkatkan pelaksanaan asuhan keperawatan.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh Depkes RI tahun 1991 di beberapa puskesmas terhadap kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga keperawatan belum seperti yang diharapkan dan sesuai dengan pedoman Depkes RI dari hasil pemantauan di dapat keaadaan sebagai berikut :
1.      Penampilan fisik dan lingkungan ruang rawat inap yang mencakup kebersihan dan kerapihan belum tertata dengan baik.
2.      Intervensi secara periodik, pemeliharaan dan penyimpanan serta penyediaan alat-lat siap pakai dari peralatan medis,sarana perawatan, obat-obatan dan bahan habis pakai belum teriintervensi dengan baik serta pemeliharaan dan penyimpanan belum pada tempatnya.
3.      Pengaturan jadwal dinas dan pembagian tugas masih merangkap dengan tugas yang lain.
4.      pelayanan keperawatan kepada pasien yang dirawat belum sesuai dengan standar praktek keperawatan.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh Depkes RI tesebut dengan keadaan Puskesmas DTP yang belum seperti diharapkan, hal ini akan mempengaruhi kepuasan pasien terhadap pelaksanaan pelayanan keperawatan.

1.2 PERUMUSAN MASALAH
berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dibuat suatu rumusan masalah yaitu bagaimana tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan di ruang rawat inap Puskesmas DTP Tanjungsari Kabupaten Sumedang.
1.3 TUJUAN PENELITIAN

1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan di ruang rawat inap Puskesmas DTP Tanjungsari, Kabupaten Sumedang.

1.3.2 Tujuan Khusus
Mengetahui kepuasan pasien terhadap dimensi kenyataan ( tangible ) di Puskemas DTP Tanjungsari.
Mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap dimensi kehandalan ( reliability ) di Puskesmas DTP Tanjungsari.
Mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap dimensi ketanggapan ( respnsiveness)  di Puskesmas DTP Tanjungsari.
Mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap dimensi kehandalan ( reliability ) di Puskesmas DTP Tanjungsari.
Mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap dimensi empati                 ( emphaty )  di Puskesmas DTP Tanjungsari.
mengidentifikasi aspek-aspek pelayanan dari ke 5 dimensi yang perlu diperbaiki, dipertahankan, ditingkatkan dan tidak diprioritaskan

1.4 DEFINISI KONSEPTUAL DAN OPERASIONAL

1.4.1 Definisi konseptual
Kepuasan pasien :
Pengalaman pasein dan harapan pasien ketika pasien masuk instansi pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan keperawatan ( Krownski & Steber, 1996 : 33 )
Pelayanan keperawatan :
Keseluruhan fungsi, tugas dan tanggung jawab yang dilaksanakan oleh seorang perawat dalam praktekl profesinya, pelayanan keparawatan meliputi kegitan promotif, preventif, kuratif / ceratif dan rehabilitatif ( Depkes RI, 1986 : 3 ). Fungsi keperawatan adalah pekerajaan yang harus dilakukan sesuai dengan perannya ( menurut Phaneuf 1972 dalam Zidin, 2001 : 20 ). Sedangkan tugas perawat menurut Depkes RI adalah penjabaran dari fungsi perawat dimana kegiatan pelayanan keperawatan di Puskesmas DTP Tanjungsari dilaksanakan dengan menggunakan prinsip – prinsip asuhan keperawatan di ruang rawat inap puskesmas yaitu asuhan keperawatan dasar tidak langsung  dan asuhan keperawatan dasar langsung:
Kenyataan ( tangible ):
Penampilan   fisik, peralatan, personal dan media komunikasi.
Kehandalan ( reliability ) :
Kemampuan untuk melaksanakan jasa yang dijanjikan dengantepat dan terpercaya.

Ketanggapan ( Resposiveness) :
Kemauan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat dan tanggap.
Jaminan ( Assurance ) :
Pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemamuan mereka untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan.
Empati ( emphaty ) :
Syarat untuk peduli, memberi perhatian pribadi bagi pelangan. ( menurut Philip Kotler 1994 dalam Supranto 2001 : 231 )

1.4.2 Definisi Opersional
Kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawattan harapan – harapan pasien dan pengalaman yang diterima ketika masuk puskesmas dan pasien akan menerima pelayanan keperawatan dan fungsi, tugas kegiatan dan tanggung jawab yang dilaksanakan oleh seorang perawat dan memberikan asuhan keperawatan yang terdiri dari lima dimensi yaitu kenyataan ( tangible ), kehandalan ( rliability ), ketanggapan ( responsiveness ), jaminan ( asurance ) dan empati ( emphaty ).

Kenyataan ( tangible ) :
Penampilan fasilitas fisik, peralatan, personnal dan komunikasi yang ada di puskesmas  DTP.
Kehandalan ( relibility )
Kemampuan perawat untuk melakukan asuhan keperawatan yang dijanjikan dengan tepatdan terpercaya.
Ketanggapan ( responsiveness ) :
Kemauan perawatuntuk membantu pasien dan memberikan asuhan keperawatan dengan cepat dan tanggap.
Empati ( emphaty )
Syarat perawat untuk peduli, memberi perhatian pribadi pasien
Jaminan ( Assurance ) :
Pengetahuan dan kesopanan perawat serta kemampuan perawat untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan.

1.5 KERANGKA PEMIKIRAN
Menurut Uma Sekaran dalam bukunya Business Research ( 1992 ), dinyatakan bahwa kerangka berfjikir merupakan konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting ( Sugiyono 2003 : 65 )

asa

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Puskesmas DTP Tanjungsari adalah salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat. Program program yang ada di puskemas DTP salah satunya adalah berupa upaya pelayanan keperawatan di ruang rawat inap. Pelayanan keperawatan ini diberikan secara lengsung maupun tidak langsung.
Upaya pelayanan keperawatan yang berkualitas dapat dilihat dari tingkat kepuasan pasien selama dirawat inap . pasien yang dirawat di puskesmas DTP harus diberikan kepuasan, sebab kalau tidak puas maka pasien tidak akan datang lagi untuk mendapatkan pelayanan keperawatan. Apabila hal ini terjadi maka ruang rawat inap penggunaannya tidak optimal. Kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan di ruang rawat inap puskesmas DTP, akan mencerminkan citra pelayanan pueksmas itu sendiri, oleh karena itu perlu kiranya untuk memelihara citra pelayanan puskesmas yang baik. Agar masyarakat menghargai pelayanan puskesmas, maka puskesmas perlu memelihara citra yang baik sebagai berikut ( Depkes RI, 1990 )
a.      Kebersihan gedung, halaman, serta jamban puskesmas
b.      Senyum dan sikap ramah dari setiap petugas puskesmas
c.      Pemberian pelayanan dengan mutu yang sebaik-baiknya.
d.      Kerjasama yang baik dengan pamong setempat dan petugas sektor lain.
e.      Selalu menepati janji pelayanan yangtelah disepakati bersama.

Kepuasan adalah harapan-harapan dan pengalaman pasien ketika pasien masuk instansi pelayanan kesentan untuk mendapatkan pelayanan keperawatan ( Menurut Linder Pelz 1982 dalam Krownski dan Steiber 1996 : 33 )
Kepuasan pelanggan di definiskan sebagai respon pelanggan terhadap ketidak sesuaian tingkat kepentingan dan kinerja aktual yang diraskannya setelah pemakaian ( rankuti 2003 ; 30 )
Kepuasna atau ketidakpuasan pelanggan/ pasien adalah respon pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian / diskonfirmasi yang didasarkan antara harapan sebelumnya ( atau norma konerja lainnya ) dan kinerja akhir produk / jasa yang dirasakan setelah pemakaiannya ( menurut Day dalam Tse danm Wilton, 1981 ) ( Tjiptono, 2000 )

2.2 UNSUR – UNSUR DALAM KEPUASAN
1.      Bukti langsung ( tangibel ) bukti yaitu meliputi fasilitas fisik, perlengkapan karyawan dan sarana komunikasi.
2.      Ketanggapan ( responsiveness) yaitu kemampuan untuk menolong pelanggan dan ketersediaan untuk melayani pelanggan dengan baik.
3.      Kehandalan ( reliability ) yaitu kemampuan untuk melakukan pelayanan sesuai yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan.
4.      Empati ( Emphaty ) yaitu rasa peduli untuk memberikan perhatian secara individual kepada pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan serta kemudahan untuk dihubungi.
Jaminan ( assurance )yaitu pengetahuan, kesopanan petugas serta sifat yang dapat dipercaya sehingga terbebas dari resiko ( Rangkuti, 2003 )

2.1 DEFINISI KEPUASAN PASIEN
konsep kepuasan pelanggan / pasien sebenarnya masih bersifat abstrak. Pencapaian kepuasan dapat merupakan proses yang sederhana, maupun kompleks dan rumit. Banyak pakar yang memberikan definisi mengenai kepuasan pelanggan / pasien diantaranya :
Kepuasan pelanggan adalh perasaan senang atau kecewa seseorang sebagai hasil dari perbandingan antara prestasi atau produk yang dirsakan dan diharapkan ( Menurut Kotler 1997 dalam rangkuti 2003 : 23 ). Pada dasarnya pengertian kepuasan pelanggan mencakup perbedaan antara tingkat kepentingan dan hasil yang dirasakan.
Kepuasan pasien adalah pernyataan posiytif sebagai evaluasi dari dimensi pelayanan kesehatan seperti evaluasi terhadap kunjungan pertama ke sebuah klinik pengobatan, perencanaan pelayanan keperawatan dan sistem pelayanan kesehatan secara umum ( Menurut Linder Pelz 1982 dalam Krownski dan Steber 1996 : 34 ).
Kepuasan pasien adalah harapan –harapan dalam pengalaman pasien ketika pasien masuk instansi pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan keperawatan ( menurut Linder Pelz 1982 dalam Krowinski dan stiber 1996 : 34 )

2.3 SUDUT PANDANG KEPUASAN
Linder Pelz merumuskan suatu model Lederhans dalam memutuskan kepuasan pasien yang dapat dilihat dari beberapa sudut pandang pasien. Ada 10 eleman yang dapat memutuskan pasien, diantaranya ;
1.      kemudahan untuk mendapatkan pelayanan
2.      Ketersediaaan sumber – sumber daya
3.      Pelayanan yang berkesinambungan
4.      Keberhasilan pelayanan keperawatan
5.      Biaya
6.      Memperlakukan pasien dengan manusiawi
7.      Informasi-informasi yang diterima pasien
8.      Pemberian informai dari petugas
9.      Kenyamanan lingkungan
10. Kualitas / komprehensip.

BAB III
METODE PENELITIAN


3.1 JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriftif yaitu satu metode bertujuan untuk memaparkan peristiwa-peristiwa yang “urgen” terjadi pada mas kini. Deskripsi peristiwa dilakukan secara sistemik dan lebih menekankan pada data faktual daripada penyimpulan. Fenomena disajikan secara apa adanya tanpa adanya manipulasi dan peneliti tidak mencoba menganalisis bagaimana dan mengapa fenomena tersebut bisa terjadi oleh karena itu penelitian jenis ini tidak perlu adanya suatu hipotesis ( Nursalam,. 2000). Alasan pemeilihan deskriftif dalam penelitian ini sesuai dengan tujuan penelitian yaitu memeproleh gambaran tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan di ruang rawat inap Puskesmas DTP Tanjungsari Kabupaten Sumedang.

3.2 VARIABEL  PENELITIAN
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. ( Sugiyono, 2004 : 38 )

3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek / subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik terteentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya ( sugiono, 2004 ; 90 ) populasi penelitian adalah keseluruhan pasien yang dirawat inap Puskesmas DTP tanjungsari Kabupaten Sumedang.

3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh penelitian ( Notoamodjo, 2002 ; 79 ). Sampel yang diambil adalah jumlah pasien yang dirawat dipuskesmas DTP Tanjungsari. Hal ini berdasarkan rata – rata  pasien yang dirawat.
Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan Purposive Sampling diambil sampel dengan kriteria sampel:
1.      Dirawat pada ruang rawat inap Puskesmas DTP Tanjungsari
2.      Sudah dirawat 1 hari atau lebih
3.      Pasien dewasa
4.      Sadar penuh dan mampu berkomunikasi baik lisan maupun tulisan
5.      Bukan karyawan Puskesmas DTP Tanjungsari

3.4 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

3.4.1 Instrumen Penelitian
pada penelitian ini diperlukan suatu alat ukur, yang berupa instrumen. Instrumen adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena maupun sosial yang diamati ( Sugiyono, 2004 : 119 ). Peneliti mengumpulkan data secara formal kepada subjek untuk menjawab pertanyaan dalam bentuk tertutup dan disediakan jawaban untuk dipilih dalam bentuk skala bertingkat. Pertanyaan dikembangkan sesuai dengan kindikator dari sub variabel dalam penelitian ini. Tingkat jawaban terdiri darji jawaban terhadap kenyataan yang sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik dan tidak baik. Jawaban terhadap harapan yaitu sangat penting, penting, cukup penting,  kurang penting dan tidak penting.

3.4.2 Uji Coba Instrumen
Uji coba intrumen ini akan dilaksanakan pada pasien yang mempunyai karakteristik yang sama dengan kriteria sampel yang ditetapkan di Puskesmas DTP Tanjungsari.

3.4.3 Uji Validitas
Untuk menentukan kevalidan dari item kuesioner digunakan koefesien item total terkoreksi sebagai berikut :

rixSx – Si
ri (x-i) =
Sx2 + Si2 - 2rix Si + Sx

Keterangan :
ri = Koefesien korelasi skor item sebelum dikoreksi
Si = Deviasi standar skor suatu item
Sx = Deviasi standar skor tes
( Azwar, 2003 : 166 )
uji validasi menunjukan sejauh mana relevansi pertanyaan terhadap apa yang ditanyakan atau apa yang ingin diukur dalam penelitian. Sifat valid memberikan pengertian bahwa alat ukur yang digunakan mampu memberikan nilai yang sesuangguhnya dari apa yang kita inginkan . tingkat validittas kuesioner diukur berdasarkan koefesien validitas yang dalam hal ini menggunakan koefesiensi korelasi suatu pertanyaan dikatakan valid bila koefesien korelasi nilanya sama dengan atau lebih dari £ 0,3 ( Kaplan, 1993 : 141 ) hali dari uji validitas didapatkan bahwa dari 23 item pertanyaan yang tidak dipakai adalah no 23 sehingga pertanyaan no 23 tidak digunakan

3.4.4 Reliabilitas
Untuk mengetahui alat ukur mempunyai konsistensi sehingga dapat diadalkan maka dipakai pendekatan konsistensi internal dengan menggunakan formula alpha dengan rumus :

K                    å Sj 2
a =                         1 – _____
k – 1                   Sx2

a          =  Koefesien alfa
k          = Banyaknya belahan
Sj = varians skor belahan
Sx2 = varians skor total
( Azwar, 2003 : 78 )

reliabilitas menunjukan sejauh mana tingkat konsistensi pengukuran dari suatu responden ke responden lain atau sejauh mana pertanyaan dapat dipahami sehingga tidak menyebabkan beda interprestasi dalam penambahan pertanyaan tersebut.

3.5 TEKNIK ANALISA DATA

3.5.1 Analisa Data
dalam menganalias data penelitian ini digunakan metode deskriptif kuantitatif . untuk menjawab perumusan masalah mengenai sampai sejauh mana tingkat kepuasan pasien terhadap kinerja Puskesmas DTP Tanjungsari Kabupaten Sumedang, maka digunakan analisis tingkat kepentingan dan analisis kenyataan.

Dalam hal ini digunakan 5 skala tingkat ( Likert ) untuk harapan yang terdiri dari sangat penting, penting, cukup penting, kurang penting dan tidak. Kelima penilaian tersebut diberikan bobot sebagai berikut ( Supranto, 2001 )
a.      Jawaban sangat penting diberi bobot 5
b.      Jawaban penting diberi bobot 4
c.      Jawaban cukup penting diberi bobot 3
d.      Jawaban kurang penting diberi bobot 2
e.      Jawaban tidak penting diberi bobot 1

Untuk kenyataan diberi 5 penilaian dengan bobot sebagai berikut :
a.      Jawaban sangat baik diberi bobot 5 , berarti pasien sangat puas / sangat baik
b.      Jawaban baik diberi bobot 4, berarti pasien puas / baik
c.      Jawaban cukup baik diberi bobot 3 , berarti pasien cukup puas / cukup bai
d.      Jawaban kurang baik diberi bobot 2 , berarti pasien kurang puas / kurang baik
Jawaban tidak baik diberi bobot 1 , berarti pasien tidak puas / tidak baik

Berdasarkan hasil penilaian tingkat kepentingan dan hasil penilaian kinerja / penampilan maka akan dihasilkan suatu perhitungan mengenai tingkat keseuaian antara tingkat kepentingan dan tingkat pelaksanaannya oleh Puskesmas DTP Tanjungsari.

Dalam penelitian ini terdapat 2 buah variabel yang diwakilkan oleh huruf x dan y, dimana x merupakan tingkat kinerja puskesmas yang dapat memberikan kepuasan para pasien , sedangkan y merupakan tingkat kepentingan pasien.
Adapun rumus yang digunakan adalah :

Xi
TKi =                      X 100%
Yi


TKi = tingkat kesesuaian responden
Xi = skor penilaian kinerja puskesmas
Yi = skor penilaian kepentingan pasien

Selanjutnya sumbu mendatar ( x) akan diiisi oleh skor tingkat pelaksanaan, sedangkan sumbu tegak ( y ) akan diisi oleh skor tingkat kepentingan.
Dalam penyederhanaan rumus maka setiap faktor yang memepengaruhi kepuasan pasien dengan :

å Xi å Yi
X = ______                 Y = ______
n                                     n

dimana :
X         = skor rata –rata tingkat pelaksanaan / kepuasan
Y         = skor rata – rata tingkat kepentingan
n          = jumlah responden
untuk melihat tingkat kepuasan yaitu dengan melihat tingkat prosentasi dari tingkat kenyataan dan kepentingan jika tingkat kepuasan tinggi maka prosentasi lebih besar (>) 50 , sedangkan jika rendah maka nilai prosentasinya (<)50%.

Diagram kartesius merupakan suatu bangun yang dibagi atas empat bagian yang dibatasi oleh dua garis yang berpotongan tegak lurus pada titik  ( X, Y ) dimana X merupakan rata – rata dari rata – rata skor tinggi tingkat pelaksanaan atau kepuasan pasien. Dan Y adalah rata – rata dari rata – rata skor tingkat kepentingan seluruh faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan/pasien. Seluruhnya ada 22 faktor atribut rumus selanjutnya.

n                                                              n
å                                              å
I = 1                                                           I = 1
X  = _____                              Y  = ______
K                                             k

Dimana
K : banyaknya atribut / fakta yang dapat mempengaruhi kepuasan pasien.

Selanjutnya unsur – unsur tersebut dapat dibagi menjadi empat bagian ke dalam diagram kartesius.
Kepentingan

Keterangan ;
A : Menunjukan faktor atau atribut yang dianggap mempengaruhi kepuasan pasien termasuk unsur – unsur jasa yang dianggap sangat penting, namun manjemen belum melaksanakan nya sesuai keinginan pasien sehingga mengecewakan / tidak puas
B : menunjukan unsur jasa pokok yang telah berhasil dilaksanakan puskesmas, untuk itu wajib dipertahankan . dianggap sangat penting dan sangat memuaskan.
C  : Menunjukan beberapa faktor yang kurang penting pengaruhnya bagi pasien, pelaksanaannya oleh puskesmas biasa – bias saja. Dianggap- kurang penting dan kurang memuaskan.
D : Menunjukan faktor yang mempengaruhi pelanggan kurang penting, akan tetapi pelaksanaannya berlebihan. Dianggap kurang penting tetapi sangat memuaskan

Diagram kartesius memperlihatkan kinerja mana yang perlu pada ditingkatkan sehingga dapat memberikan kepuasan kepada pasien, kinerja yang perlu dipertahankan karena sesuai dengan harapan pasien, kinerja yang kurang penting menurut pasien dan pelayanannya tidak memuaskan dan kinerja  yang berlebihan sedangkan paksien tidak menharapkannya sehingga kinerja bisa dihilangkan.

3.5.2 Penyajian Data
Hasil penelitian akan ditampilkan ke dalam bentuk tabel dan diagram kemudian di interprestasikan dalam bentuk deskriptif.

3.6 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
Lokasi penelitian adalah ruang rawat inap Puskesmas DTP Tanjungsari kabupaten Sumedang sedangkan waktunya januari tahun 2007



0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below..

You must log in to post a comment.