A. Konsep Dasar
- Pengertian Hipertensi
Hipertensi adalah tekanan sistolik lebih tinggi dari 140 mmHg menetap atau tekanan diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg (Engram Barbara Vol. 2, EGC: 368), sedangkan menurut WHO 1987 IPD jilid 2: 453 menyatakan bahwa hipertensi adalah tekanan sistolik lebih tinggi dari 140 mmHg atau sama dengan 160 mmHg menetap dengan tekanan diastolik lebih tinggi 90 mmHg atau sama dengan 95 mmHg.
Dari kedua pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa hipertensi adalah tekanan darah yang tidak normal dengan tekanan sistolik lebih tinggi dari 140 mmHg menetap/diastolik lebih tingggi dari 90 mmHg yang dapat mengganggu fungsi sirkulasi darah ke seluruh tubuh terutama otak dan jantung.
2. Penggolongan hipertensi
Berdasarkan tinggi tekanan darah diastolik hipertensi diklasifikasikan dalam 3 golongan sebagai berikut:
a. Hipertensi ringan bila tekanan diastolik 90 – 110 mmHg
b. Hipertensi sedang bila tekanan diastolik 110 – 130 mmHg
c. Hipertensi Berat bila tekanan diastolik 130 mmHg
Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah berdasarkan Tekanan Sistolik dan Diastolik
|
Tekanan Diastolik |
(Tekanana Sistolik mmHg) |
||
|
< 140 mmHg |
140 – 159 mmHg |
> 160 mmHg |
|
|
< 85 |
Tekanan darah normal
Tekanan darah normal Tinggi |
Hipertensi sisa | Hipertensi sisa terisolasi |
|
90 – 104 |
Hipertensi ringan | ||
|
105 – 114 |
Hipertensi sendang | ||
|
> 115 |
Hipertensi berat | ||
Sumber : menurut Soeparman Sarwono Waspadji (1991: 206).
Tabel 2. Klasifikasi Tekanan Darah yang berumur 18 tahun keatas
| Kategori Sistolik Diastolik
(mmHg) (mmHg) |
| - Optimal <120 dan <80
- Nortmal <130 dan <85 - Normal tinggi 130-139 atau 85-89 Hipertensi Derajat 1 140-159 atau 90-99 Derajat 2 160-179 atau 100-109 Derajat 3 180 atau 110 |
Sumber :
Sedangkan menurut Kaplan 1985 bahwa pria yang berumur < 45 tahun dinyatakan hipertensi jika tekanan darah pada waktu berbaring 130/90 mmHg atau lebih, sedangkan yang berusia >45 tahun dinyatakan hipretensi jika tekanan darahnya 145/95 mmHg atau lebih.
- Etiologi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan:
a. Hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, terdapat sekitar 95 % kasus banyak faktor yang dapat mempengaruhinya: genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, obesitas, diabetes melitus, alkohilisme, merokok, defek dalam ekskresi Na, kenaikan natrium dan intra seluler.
b. Hipertensi sekunder terdapat sekitar 5 % kasus
Penyebabnya: Penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskuler renal.
4. Tanda dan Gejala Hipertensi
Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya tanda hipertensi essensial dan tergantung dari tinggi rendahnya tekanan darah gejala yang timbul dapat berbeda-beda, seperti: stress (cepat marah), telinga berdenging, sakit kepala, epistaksis, mata berkunang-kunang, sesak nafas, mudah lelah, rasa berat ditengkuk.
- Komplikasi Hipertensi
Komplikasi hipertensi yang sering terjadi adalah pada mata berupa perdarahan retina, ganguan penglihatan sampai dengan kebutaan, ginjal dan gagal jantung koroner dan miokard. Pada otak sering terjadi perdarahan yang disebabkan oleh pecahnya mikroaneurisma yang dapat menyebabkan kematian.
- Manajemen Medik
Dalam perawatan klien dengan hipertensi dirumah sakit umum nasihat yang perlu diberikan kepada klien dan keluarga diarahkan pada pembelajaran hipertensi, cara menurunkan faktor resiko, program perawatan sebagai berikut:
a. Sifat dari Hipertensi
1) Arti dari tekanan darah sistolik dan diastolik
2) Pengaruh terhadap tubuh, hipertensi yang berkepanjangan
b. Pengobatan
1) Dosis, frekuensi dan efek samping
2) Mengurangi dan membatasi alkohol yang berpengaruh besar terhadap obat-obat anti hipertensi
3) Obat harus diteruskan walaupun sudah tidak ada gejala
c. Metode pengukuran darah secara teratur
d. Program latihan fisik yang teratur (aerobik 30-45 menit/hari yang dapat meningkatkan cardiak output dan menurunkan resisten perifer
e. Diit, menghindari tambahan garam kedalam makanan sewaktu makan : mencegah makanan yang banyak garam (seperti kacang tanah, kripik kentang, hot dog), batasi makanan lemak jenuh untuk meminimalkan resiko penyakit kardiovaskuler
f. Menghindari dari kebiasaan merokok
g. Mempertahankan asupan kalsium dan magnesium yang adekuat
h. Mempertahankan asupan kalsium yang adekuat (90 mm/hari)
i. Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan
A. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
a. Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko
1) Kegemukan
2) Riwayat keluarga positif hipertensi
3) Peningkatan kadar lipid serum
4) Merokok sigaret berat
5) Penyakit ginjal
6) Terapi hormon kronis
7) Gagal jantung
8) Kehamilan
9) Penyakit DM
10) Memakan makanan yang mengandung kolesterol tinggi
b. Tanyakan tentan kepatuhan dengan program penatalaksanaan anti hipertensif yang diresepkan.
c. Tanyakan tentan obat-obatan yang terakhir digunakan
d. Kaji tekanan darah pada kedua lengan dengan cara: berbaring, duduk dan berdiri.
e. Pemeriksaan fisik berdasarkan survei umum menunjukkan manifestasi kerusakan organ:
1) Otak, sakit kepala, mual muntah, epistaksis, kaki kesemutan, pada ekstremitas.
2) Penglihatan kabur
3) Gagal jantung
4) Ginjal, penurunan haluaran urin dalam hubungannya dengan masukan cairan, penambahan berat badan secara tiba-tiba.
f. Data penunjang
1) Sinar X dada dapat menunjukkan kardiomegali.
2) EKG dapat menunjukkan hipertrofi ventrikel.
3) Urinalisasi dapat menunjukkan proteinuria, hematuria mikroskopik.
4) Survei kimia dapat menunjukkan peningkatan kolesterol dan trigliserda.
5) Profil lipid dapat menunjukkan peningkatan natrium.
6) Elektrolit serum dapat menunjukkan peningkatan natrium.
7) Kadar katekolamin meningkatan bila hipertensi disebabkan oleh feikrosmositoma (tumor medulla adrenal).
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon individu pada masalah kesehatan yang aktual dan potekananal, masalah aktual adalah masalah yang ditemukan pada saat dilakukan pengkajian, sedangkan masalah potekananal adalah yang kemungkinan akan timbul kemudian.
a) Resiko tinggi inefektif penatalaksanaan regimen terapeutik berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi pembatasan diit obat, faktor resiko dan perawatan tindak lanjut.
b) Resiko tinggi ketidakpatuhan berhubungan dengan efek samping negatif terapi yang diharuskan versus keyakinan bahwa pengobatan tidak diperlukan tanpa adanya gejala.
c) Resiko tinggi terhadap kerusakan perfusi jaringan berhubungan dengan kerusakan organ sekunder terhadap hipertensi tak terkontrol.
3. Perencanaan
Mencakup penyusunan prioritas, merumuskan tujuan dan memilih strategi yang tepat untuk memecahkan masalah.
Perencanaan pada hipertensi terdiri dari :
a) Resiko tinggi inefektif penatalaksanaan regimen terapeutik b.d kurang pengetahuan tentang kondisi, pembatasan diit obat, faktor resiko dan perawatan tindak lanjut.
Tujuan : – Klien mengerti dan memahami tentang penatalaksanaan pengobatan yang efektif.
- Untuk proses penyembuhan dan mencegah kekambuhan penyakit.
Kriteria : - Mengungkapkan ansietas berkurang tentang ketakutan akan ketidaktahuan, ketakutan akan kehilangan kontrol.
- Menggambarkan proses penyakit, penyebab-penyebab dan faktor-faktor penunjang pada gejala, kontrol gejala.
- Mengungkapkan maksud untuk melakukan perilaku kesehatan yang diperlukan, keinginan untuk pulih dari penyakit dan pencegahan kekambuhan dan komplikasi.
Tabel 3. Intervensi dan Rasional Resiko Tinggi Inefektif Penatalaksanaan Regimen Terapeutik
|
INTERVENSI |
RASIONQAL |
|
(1) |
(2) |
1. Bahas konsep tekanan darah menggunakan terminologi klien dan orang terdekat yang dapat mengerti.
|
1. Resiko stroke meningkat secara langsung dengan tekanan darah individu ( baik sistolik dan diastolik, |
(1) |
(2) |
|
b. Efek tekanan darah tinggi menetap pada otak, jantung, ginjal dan mata c. Kontrol versus perawatan 2. Ajarkan klien cara pengukuran tekanan darah atau ajarkan orang terdekat bagaimana tekanan darah klien. 3. Bahas modifikasi gaya hidup yang dapat menurunkan hipertensi.
b. Batasi masukan alkohol tiap hari c. Dalam latihan aerobik regular (30 – 40 menit ) 3 – 5 kali seminggu |
penurunan dalam angka kejadian stroke bertepatan dengan pengobatan agresif dan kontrol efektif. 2. Pemantauan mandiri lebih tepat dan dapat meningkatkan kepatuhan 3. Modifikasi gaya hidup telah terbukti dapat menghilangkan hipertensi pada beberapa indvidu tanpa menggunakan obat a. Obesitas meningkatkan tahanan perifer dan beban kerja jantung, meningkatkan tekanan darah. b. Alkohol adalah vasodilator yang menyebabkan vasokontriksi rebound yang mempunyai keterkaitan pada penaikan tekanan darah. c. Latihan regular meningkatkan aliran darah parifer dan otot serta efesiensi jantung, hasilnya adalah sistem terdiovaskuler yang lebih efektif. |
|
(1) |
(2) |
| d. Kurangi masukan natrium sampai < 2,3 gr natrium atau 6 gr natrium klorida
e. Berhenti merokok f. Kurangi lemak jenuh dan kolesterol sampai < 3% dari masukan diet. g. Pastikan mengkonsumsi kalsium, kalium dan diet magnesium dalam jumlah yang diijinkan setiap hari. 4. Berikan klien atau orang terdekat pedoman obat dan informasi kartu obat untuk semua obat. Jelaskan hal berikut :
5. Kewaspadaan klien dan orang terdekat terhadap obat bebas yang menjadi kontra indikasi seperti : |
d. Natrium mengontrol distribusi air ke seluruh tubuh, peningkatan natrium menyebabkan peningkatan air, dengan demikian meningkatkan volume sirkulasi dan meningkatkan tekanan darah.
e. Tembakau bekerja sebagai vasokonriktor yang dapat meningkatkan tekanan darah. f. Diit tinggi lemak membantu pembentukan plague dan penyempitan pembuluh darah g. Elemen ini dapat mempertahankan sistem kardiokrakuler dan otot. 4. Penyuluhan ini menunjukan pada klien efek samping yang harus dilaporkan dan kewaspadaan yang harus dilakukan 5. Obat bebas umumnya dipandang sebagai kurang berbahaya, namun kenyataannya banyak dari obat |
|
(1) |
(2) |
b. Dekongestan misal : viks pormula 44 c. Laksatif , misal : phosposoda 6. Tekankan pentingnya perawatan tindak lanjut. 7. Ajarkan klien dan orang terdekat untuk melaporkan gejala-gejala ini. a) Sakit kepala khususnya saat bangun b) Nyeri dada c) Nafas Pendek Peningkatan berat badan atau edema. |
tersebut menyebabkan komplikasi.
a. Obat mengandung natrium tinggi meningkatkan retensi air. b. Dekongestan bekerja sebagai vasokontrikstor yang meningkatkan tekanan darah. c. Mengandung natrium tinggi. 6. Perawatan tindak lanjut membantu mendeteksi komplikasi 7. Tanda dan gejala ini dapat menadakan peningkatkan tekanan darah atau komplikasi kardiokvaskuler lain |
Sumber : Carpenito, 1999: 90
b) Resiko Tinggi Terhadap ketidakpatuhan berhubungan dengan efek samping negatif tetapi yang diharuskan versus keyakinan bahwa pengobatan tidak diperlukan tanpa adanya gejala.
Tujuan : Klien dapat mematuhi program terapi dan klien mengerti efek samping dari ketidakpatuhan.
Kriteria : - Mengungkapkan perasaan yang berhubungan dengan mematuhi regimen yang diharuskan.
- Mengungkapkan potensial komplikasi dari ketidakpatuhan.
- Mengidentifikasikan sumber pendukung untuk membantu kepatuhan.
Tabel 4. Intervensi dan Rasional Resiko Tingggi terhadap Ketidakpatuhan Berhubungan Dengan Efek Samping Negatif Terapi yang Diharuskan Versus Keyakinan bahwa Pengobatan tidak Diperlukan tanpa Adanya Gejala
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
(1) |
(2) |
| 1. Identifikasi setiap faktor yang dapat memprediksi ketidakpatuhan, seperti :
a) Kurang pengetahuan b) Ketidakpatuhan dirumah sakit c) Kegagalan untuk merasakan keserlusan atau sifat kronis hipertensi. d) Keyakinan bahwa kondisi akan menghilang dengan sendirinya. e) Keyakinan bahwa sudah tidak mempunyai harapan 2. Tekankan pada klien kemungkinan ancaman hidup akibat ketidakpatuhan 3. Tunjukan bahwa kenaikan tekanan darah secara tipikal tidak menunjukan gejala. 4. Diskusikan kemungkinan efek stroke pada masa yang akan datang, gagal ginjal, atau penyakit koroner. |
1. Diperkirakan bahwa 40% sampai 50% klien dengan hipertensi menghentikan program pengobatan dalam tahun pertama mengidentifikasi adanya hambatan terhadap kepatuhan memungkinkan perawat untuk merencanakan intervensi untuk menghilangkan masalah ini dan memperbaiki kepatuhan.
2. Penekanan ini menunjukan keseringan dari hipertensi yang dapat mendorong klien untuk mematuhi pengobatan.klien untuk mematuhi pengobatan 3. Tidak adaanya gejala sering mendorong ketidakpatuhan. 4. Dapat menekankan potensial dampak hipertensi klien pada orang terdekat yang dapat mendorong kepatuhan. |
|
(1) |
(2) |
| 5. Libatkan orang terdekat klien dalam sesi penyuluhan bila memungkinkan.
6. Tekankan pada klien bahwa pada akhirnya adalah pilihan klien untuk mentaati atau tidak rencana pengobatan tersebut. 7. Jelaskan kemungkinan efek samping obat anti hipertensi (misal: impotekanan vertigo). Intruksikan klien untuk konsul dokter untuk obat alternatif bila terjadi efek samping ini. |
5. Orang terdekat juga harus memahami kemungkinan akibat ketidakpatuhan untuk mendorong mereka membantu klien dalam mentaati program pengobatan.
6. Membantu klien memahami bahwa ia bertanggung jawab terhadap kepatuhan untuk mendorong yang dapat meningkatkan rasa kontrol klien dan penentuan diri yang dapat membantu memperbaiki kepatuhan. 7. Klien yang menjalani efek samping ini dapat menghentikan terapi obat dengan sendirinya. |
Sumber: Carpenito, 1999: 89
d. Resiko tinggi terhadap kerusakan perfusi jaringan berhubungan dengan organ sekunder terhadap hipertensi tidak terkontrol.
Tujuan : Tidak terjadinya kerusakan organ target seperti: otak, ginjal, mata dan jantung.
Kriteria : Tekanan darah dipertahankan antara 90/60 – 140/90 mmHg
Tabel 5. Intervensi dan Rasional Resiko tinggi terhadap Kerusakan Perfusi Jaringan berhubungan dengan Organ Sekunder terhadap Hipertensi tak Terkontrol
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
| 1. Pantau
a) Tekanan darah setiap 4 jam dan pernapasan. b) Masukan dan haluaran setiap 8 jam lebih sering bila haluaran kurang bermakna daripada masukan cairan. c) Status umum setiap 8 jam. 2. Bila pasien diterima dalam krisis hipertensif, berikan agen hipertensi yang dirasakan dan evaluasi keefektifannya. 3. Ikuti kewaspadaan khusus bila pemberian obat anti hipertensi darurat secara intravena. a) Periksa tekanan darah setiap 5 menit. b) Buang larutan intravena setelah 24 jam. c) Tutup infus nipride (kantung dan selang) dengan tinfoil. d) Gunakan pomp infus untuk memberikan semua tetes kontinu. 4. Beritahu dokter bila haluaran urine turun di bawah 30 ml/jam. 5. Tempatkan pemantauan jantung sementara infus kontinu dan obat anti hipertensif diberikan. 6. Pertahankan tirah baring pada posisi semi fowler sampai tekanan darah dipertahankan pada tingkat yang dapat diterima. |
1. Untuk mengetahui kefektifan terapi.
2. Penurunan cepat tekanan darah penting untuk mengahalangi kerusakan luas pada otak, ginjal, mata dan jantung. 3. Tindakan ini dapat menjamin keamanan dan terapi obat efektif. 4. Ini dapat menandakan insufisensi ginjal. 5. Angina pektoris dan kemungkinan infark miokard dapat terjadi bila tekanan darah turun terlalu cepat 6. Tirah baring membantu menurunkan kebutuhan energi, posisi duduk meningkatkan aliran darah arteri berdasarkan gravitasi. |
|
(1) |
(2) |
7. Tentukan bila krisis hipertensi disebabkan oleh ketidakpatuhan, biaya, gali alasan-alasan ketidakpatuhan.
|
7. Ketidakpatuhan dan kegagalan untuk mencari tindakan untuk hipertensi umum menyebabkan krisi hipertensi. |
Sumber : Barabara Engram, 1999: 373



0 comments ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below..